TUGAS PERTEMUAN 6

NAMA : SYARIFA FIBRIANI

NIM : 2019D1B167

PENGAWASAN PROYEK 


Pertemuan Ke - 6 

Buat detail penjelasan yang lengkap terkait :

1. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan Beton Bertulang dan Jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi pada Pek. Beton Bertulang)

2. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan Lapisan Campuran Beraspal dan Jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi pada Pek. Lapisan Camouran Beraspal)


1. Kerusakan dan Perkuatan Yang Sering Terjadi Pada Beton Bertulang

Kerusakan yang sering terjadi dalam beton bertulang


Pada umumnya, kerusakan yang terjadi dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:

  1. Retak (cracks)
    Retak merupakan kejadian pecah pada beton, berupa garis-garis panjang yang sempit. Retak ini biasa terjadi akibat cuaca yang panas dan berangin.
    Jenis kerusakan ini sifatnya dangkal dan saling berhubungan. Kerusakan akibat keadaan alam pada beton dengan steel structure (reinforced concrete) maupun prestressed concrete memang seringkali tidak bisa dihindari.
    Dengan penanganan yang tepat, kerusakan ini tidak akan menimbulkan permasalahan berarti bagi konstruksi.
  2. Lubang-lubang pada beton bertulang (void)
    Voids 
     merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi kerusakan pada beton bertulang, berupa lubang-lubang yang ukurannya relatif dalam dan lebar.
    Penyebabnya ialah proses pemadatan yang dilakukan dengan vibrator beton yang kurang maksimal dan  terlalu sempitnya jarak antara bekisting dengan tulangan atau frame. Yang sering  terjadi adalah jarak antar tulang yang terlalu sempit hingga mortar tidak bisa mengisi rongga atau pori-pori antara agregat kasar dengan sempurna.
  3. Kelupasan dangkal pada permukaan (scalling/ erosion/spalling)
    Kelupasan dangkal pada permukaan beton bertulang merupakan jenis kerusakan yang umum terjadi.
    Penyebabnya ialah adanya eksposisi yang berulang terhadap proses pembekuan dan pencairan hingga permukaan beton bisa terkelupas (scalling).
    Ada pula jenis kerusakan lain yang menyebabkan permukaan beton terkelupas, yakni  spalling, yakni melekatnya material di permukaan bekisting yang menyebabkan permukaan beton terkelupas.
  4. Lekatan baja beton
    Inilah jenis kerusakan lain yang umum terjadi pada beton bertulang. Kerusakan ini sering terjadi pada komponen struktur penunjang bangunan sipil.
    Perlu diketahui bahwa lekatan dipengaruhi oleh tingkat kekasaran sebuah permukaan baja dan kualitas beton di sekitar bagian tulangan. Jika kelekatan gagal terjadi atau kurang sempurna, maka akan membuat menurunnya daya dukung pada struktur.
    Hal ini bsia menyebabkan deformasi. Yang lebih parah bisa menyebabkan runtuhnya struktur konstruksi.
    Penyebab lain dari kegagalan kelekatan ialah adanya korosi pada tulangan, terjadinya kebakaran, atau bisa jadi karena terlalu tipisnya selimut beton.
  5. Adanya serangan kimia
    Beberapa bahan kimia digunakan dalam proses konstruksi beton tulangan, baik steel structure maupun baja. Seperti penggunaan fly ash pada campuran beton yang berpotensi bisa memberi pengaruh pada  beton terutama pada lingkungan bersulat.
    Selain itu, adanya tegangan internal bisa juga terjadi akibat dari mengembangnya unsur kimia tertentu pada beton, seperti Ca (OH)2 dengan unsur kimia penyerang.
  6. Penurunan pondasi
    Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi.
  7. Penggunaan vibrator yang salah menjadi salah satu penyebab utama kerusakan pada beton. anda bisa memaksimalkan penggunaan vibrator tapi hanya untuk proses pemadatadan sesuai dengan aturan yang berlaku.
  8. Tinggi jatuh pengecoran, untuk menghindari kerusakan ini anda bisa melakukan pembatasan tinggi jatuh pengecoran 2-4 feet dan jatuhkan campuran secara vertikal
  9. Kesalahan pelepasan bekisting, dalam hal ini anda harus mendapatkan persetujuan dari pihak kontraktor dengan melihat hasil uji kuat tekan.
  10. Dilatasi pengecoran, untuk hal ini seharusnya pengecoran dilakukan selapis demi selapis. jangan terlalu tebal (max. 500 mm) dan pastikan tebal nya tidak melebihi panjang batang penggetar.

Perkuatan pada beton bertulang

Untuk mengatasi kerusakan yang terjadi pada beton bertulang baik dengan structur besi maupun baja, maka harus dimulai dengan tahap pemilihan bahan perkuatan yang baik dan tepat.

Pemilihan material ini merupakan persyaratan wajib untuk perbaikan yang tahan lama. Salah satu solusi untuk perkuatan ini ialah dengan material yang bersifat cementitious yang jadi pilihan terbaik untuk perkuatan beton yang rusak.


Pada kondisi tertentu, juga disyaratkan bahwa perkuatan harus mencakup pula ketahanan terhadap serangan bahan kimia hingga terkadang material lain dipilih dengan pertimbangan tersebut. Jadi, material perbaikan bersifat fleksibel sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kerusakan yang terjadi.

Beberpa pertimbangan untuk memilih material perkuatan ialah: kemudahan perbaikan, pembiayaan, seberapa terampil pekerja dalam memperbaiki, serta peralatan yang dimiliki untuk perbaikan.


Syarat-syarat yang harus ada dalam material perbaikan

  • Memiliki stabilitas dimensional
    Salah satu syarat utama untuk memilih materi perkuatan pada beton ialah adanya lekatan yang sempurna dan maksimal antara material yang baru dan beton yang rusak.
    Sering kali yang terjadi ialah adanya kerusakan pada kelekatan akibat perubahan dimensional yang diakibatkan oleh penyusutan. Sehingga material yang dipakai untuk perbaikan haruslah bebas susut ataupun jika mengalami penyusutan tidak akan merusak lekatan pada beton yang lama.
  • Koefisien ekspansi thermal
    Perlu diketahui bahwa semua material dalam konstruksi akan mengalami ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur udara di lingkungan. Perubahan yang terjadi tergantung pada koefisien ekspansi thermal material tertentu. Misalnya, untuk beton, koefisien ekspansi thermal adalah 0,000006 hingga 0,000012 cm per derajat celcius.
    Maka dari itu, pemilihan material untuk perkuatan beton bertulang harus dipilih dengan tepat. Jika komposisi dari dua material dengan koefisien thermal jauh berbeda dan mengalami perubahan temperatur maka akan mengakibatkan kerusakan pada beton bertulang berupa garis lekatan.
  • Modulus elastisitas
    Istilah di atas untuk menggambarkan ukuran kekakuan pada sebuah material. Suatu bahan atau material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak akan mengalami deformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas rendah, terutama ketika menerima beban.

Penawaran salah satu beton bertulang yaitu RC Box Culvert dan juga kebutuhan Pagar Beton Precast

Dengan demikian, pemilihan material juga harus mempertimbangkan aspek ini, dimana jika dua material dengan modulus elastisitas berbeda berada dalam satu kontak maka bisa menyebabkan  material dnengan modulus elastisitas rendah akan meleleh, melengkung atau menggelembung jika menerima beban. Selain itu, susut atau pergerakan thermal yang terjadi pun dapat menyebabkan beton kehilangan lekatan.


Jenis-jenis bahan perkuatan beton bertulang

Sesuai dengan syarat di atas, maka ada beberapa jenis material yang bisa diaplikasikan untuk perkuatan beton bertulang, yakni:

1. Material yang bersifat cementitious

Material yang satu ini dalam digunakan untuk perbaikan beton dengan bantuan admixture yang bisa menghasilkan sifat kohesif, capaian kekuatan cepat, dan daya tahan terhadap susut.

Material perbaikan dalam jenis ini adalah:

  • Beton, grout, mortar yang diaplikasikan untuk mengganti total penampang.
  • Mortar dan beton dengan modifikasi tertentu, yakni penambahan latex untuk melapisi kembali permukaan lantai bangunan atau jembatan saat ada kerusakan.
  • Grout, mortar, dan beton yang telah melalui penambahan polimer.
  • Dry pack, yakni mortar berbahan dasar semen portland yang tidak akan mengalami
  • Shotcrete/ sprayed concrete/ sprayed mortar, dibuat dari bahan-bahan sama seperti pembentuk beton (semen, air, agregat).

2. Material berbahan dasar resin

Pembuatan material ini atas dasar epoxy resin, yakni resin untuk injeksi. Ada yang terdiri dari pasir halus, ada pula yang dicampur dengan agregat kasar berukuran kecil.

3. Elastomeric sealants

Material ini digunakan untuk memperbaiki retak yang mengalami pergerakan cukup signifikan. Ada dua tipe yang bisa digunakan, yakni hot-applied dan cold applied.

4. Silicones

Material ini digunakan untuk perkuatan apabila ada masalah uap air melalui dinding. Larutan silicone di semprotkan pada didining hingga silicon resin tertinggal dalam pori dinding dan mencegah kerusakan.

5. Bentonite

Material bubuk dari debu vulkanik ini dapat mengabsorbsi air dengan jumlah banyak sehingga efektif digunakan sebagai penghalang air.

6. Bituminous coating

Material berbahan dasar berupa aspal yang diaplikasikan untuk perlindungan terhadap pelapukan pada beton atau waterproofing.

7. Untuk kerusakan retak-retak, perbaikan bisa dilakukan dengan injeksi menggunakan epoxy/resin atau produk lain yang khusus untuk injeksi beton.

8. Kerusakan retak cukup lebar dan beton pecah namun tulangan masih baik, perbaikan beton dapat dilakukan dengan cara beton dibersihkan dan dikasarkan kemudian di grouting ulang.

9. Jika kerusakan sudah serius maka cara perbaikan yang bisa dilakukan adalah menambah ketebalan pelat. Penebalan pelat bisa dilakukan pada sisi bawah pelat. Yang perlu diperhatikan dalam penebalan plat adalah dipastikan kelekatan beton lama dan baru bekerja dengan baik.

10.Pada beton bagian dalam mengalami spalling atau rusak, namun tulangan tidak rusak. Cara perbaikan beton dengan grouting. Grouting adalah memberikan campuran adukan beton dengan bahan khusus dengan mutu tinggi.


2. Jenis – jenis kerusakan perkerasan lentur (aspal), umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1)        Deformasi: bergelombang, alur, ambles, sungkur, mengembang, benjol dan turun.
2)        Retak: memanjang, melintang, diagonal, reflektif, blok, kulit buaya, dan bentuk bulan sabit, halus, susut.
3)        Kerusakan di pinggir perkerasan: pinggir retak/pecah dan bahu turun.
4)        Kerusakan tekstur permukaan: butiran lepas, kegemukan, agregat licin dan stripping.
5)        Kerusakan lubang
6)        Tambalan dan Galian Utilitas
7)        Persilangan jalan rel.
8)        Erosi Jet Blast
9)        Tumpahan Minyak
10)    Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi

  •      Upaya penanganan terkait kerusakannya
1.      Deformasi
    Deformasi yaitu perubahan permukaan jalan dari profil aslinya merupakan kerusakan penting karena mempengaruhi kualitas kenyamanan lalu lintas, dan mencerminkan kerusakan struktur perkerasan.
1. Bergelombang / keriting (Corrugation)
Keriting atau bergelombang adalah kerusakan akibat terjadinya deformasiplastis yang menghasilkan gelombang-gelombang melintang atau tegak lurus arah perkerasan. Biasa terjadi pada lokasi dimana lalu lintas sering bergerak dan berhenti atau saat kendaraan mengerem pada turunan, belokan tajam atau persimpangan. Gelombang-gelombang terjadi pada jarak yang relatif teratur, dengan panjang kerusakan kurang dari 3 m di sepanjang perkerasan
upaya penanganan 
  1. Menambal di seluruh kedalaman.
  2. Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan lapisan tipis perawat permukaan, maka permukaan dikasarkan, kemudian dicampur dengan material pondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
  3. Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi melebihi 50 mm, keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas  (pavement milling machine), diikuti dengan lapis tambahan (overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur perkerasan lebih kuat.
2. Alur (rutting)
Alur adalah deformasi permukaan perkerasan aspal dalam bentuk turunnya perkerasan ke arah memanjang pada lintasan roda kendaraan akibat beban lalu lintas yang berulang pada lintasan road sejajar dengan as jalan, biasanya baru tampak jelas saat hujan. Gerakan ke atas perkerasan dapat timbul di sepanjang pinggir alur. Alur biasanya banyak nampak jelas ketika hujan dan terjadi genangan air di dalamnya.


Cara penanganannya yaitu
  1. Seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan (overlay) campuran aspal panas (hot mix) dengan perataan dan pelapisan permukaan.  Perbaikan alur dengan menambal permukaan, umumnya hanya untuk perbaikan sementara.

  2. Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, ternasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
3.        Amblas (depressions)
Amblas adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area terbatas yang mungkin dapat diikuti dengan retakan penurunan. Ditandai dengan adanya genangan air pada pemiukaan perkerasan yang membahayakan lalu-lintas yang lewat diukur dengan straightedge.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Beban lalu-lintas berlebihan.
  2. Penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami penurunan.
Cara penanganannya yaitu
  1. Perawatan permukaan (surface treatment) atau micro surfacing.

  2. Untuk area kerusakan yang besar, perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya (permukaan), atau menambal pada seluruh kedalaman. 
4. Sungkur (shoving)
Sungkur adalah perpindahan permanen secara lokal dan memanjang dari permukaan perkerasan yang disebabkan oleh beban lalu lintas. Karena saat lalu lintas mendorong perkerasan, timbul gelombang pendek di permukaannya. Sungkur melintang dapat timbul oleh gerakan lalu lintas membelok. Sungkur biasa terjadi pada perkerasan aspal yang berbatasan dengan perkerasan beton semen portland perkerasan beton bertambah panjang oleh kenaikan suhu dan menekan perkerasan aspal.

Cara perbaikan
  1. Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di seluruh kedalaman.
  2. Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan perawat permukaan tipis, kasarkan permukaan, campur dengan material agregat   pondasi, dan padatkan sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).

  3. Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan lapis pondasi 50 mm, sungkur dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), yang diiikuti dengan lapis tambahan campuran aspal panas (hot mix) agar memberikan kekuatan yang cukup pada perkerasan.

5.        Mengembang (swell)
Pengembangan adalah gerakan lokal ke atas dari perkerasan akibat pengembangan (pembekuan air) dari tanah dasar atau dari bagian struktur perkerasan. Perkerasan yang naik akibat tanah dasar yang mengembang ini dapat menyebabkan retaknya permukaan aspal. Pengembangan dapat dikarakteristikkan dengan gerakan perkerasan aspal, dengan panjang gelombang > 3 m.

Cara perbaikan
  1. Menambal di seluruh kedalaman
  2. Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya dengan material baru.
  3. Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
  4. Sembarang cara, untuk perbaikan pennanen, pada prinsipnya harus ditujukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.


6.  Tonjolan dan turun (hump and sags)
           Tonjolan adalah gerakan atau perpindahan ke atas, bersifat lokal dan kecil dari permukaan perkerasan aspal. Sags adalah gerakan ke bawah dari permukaan perkerasan. Bila perpindahan terjadi dalam area yang luas, disebuh swelling. Benjol mempunyai pola tegak lurus arah lalu lintas. Kerusakan  benjol  tidak  sama  dengan  sungkur,  di  mana  kerusakan sungkur diakibatkan oleh perkerasan yang tidak stabil. Jika benjolan nampak mempunyai pola tegak lurus arah lalu-lintas dan berjarak satu sama lain kurang dari 10 ft (3 m), maka kerusakannya disebut keriting (corrugation).

Cara perbaikan
  1. Cold mill.
  2. Penambalan dangkal, parsial atau di seluruh kedalaman.

  3. Pelapisan tambahan (overlay).

2.       Retak (Crack)
Retak dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan melibatkan mekanisme yang kompleks. Secara teoritis, retak dapat terjadi bila tegangan taik yang terjadi pada lapisan aspal melampui tegangan tarik maksimum yang dapat ditahan oleh perkerasan tersebut. Misalnya, retak cleh kelelahan (fatigue) terjadi akibat tegangan tank berulang-ulang akibat beban lalu-lintas. Perkerasan yang kurang kuat tidak mempunyai tahanan terhadap tegangan tarik yang tinggi. Mengacu pada AUSTROADS (1987), retak pada perkerasan lentur dapat dibedakan menurut bentuknya yaitu :
1.        Retak memanjang (longitudinal craks)
Retak berbentuk memanjang pada perkerasan jalan, dapat terjadi dalam bentuk tunggal atau berderet yang sejajar dan kadang-kadang sedikit bercabang. Retak memanjang dapat terjadi oleh labilnya lapisan pendukung dari struktur perkerasan. Retak memanjang dapat timbul oleh akibat beban maupun bukan. Retak yang bukan akibat beban, misalnya oleh akibat adanya sambungan pelaksanaan ke arah memanjang.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, sehingga lapisan tersebut kurang stabil.
  2. Adanya perubahan volume tanah di dalam tanah-dasar oleh gerakan vertikal.
  3. Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan. Lebar celah bisa mencapai 6 mm, sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dari permukaan.
  4. Adanya penyusutan semen pengikat pada lapis pondasi  (base) atau tanah-dasar.
  5. Kelelahan (fatigue) pada lintasan roda.
  6. Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
  3. Retak dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Panjang retak yang dominan.
  3. Jarak retakan.
  4. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya

2.        Retak melintang (transverse cracks)
Retak melintang merupakan retakan tunggal (tidak bersambungan satu sama lain) yang melintang perkerasan. Perkerasan, retak ketika temperatur atau lalu-lintas menimbulkan tegangan dan regangan yang melampaui kuat tarik atau kelelahan dari campuran aspal padat. Retak macam ini biasanya berjarak yang mendekati sama. Retak melintang akan terjadi biasanya berjarak lebar, yaitu sekitar 15 - 20  m. Dengan berjalannya waktu, retak melintang berkembang pada interval jarak yang Iebih pendek. Retak awalnya nampak sebagai retak rambut, danakan semakin lebar dengan berjalannya waktu.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Penyusutan bahan pengikat pada lapis pondasi dan tanah-dasar.
  2. Sambungan pelaksanaan atau retak susut (akibat temperature rendah atau pengerasan) aspal dalam permukaan.
  3. Kegagalan struktur lapis pondasi.
  4. Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
  3. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Panjang retak yang dominan.
  3. Jarak retakan.
  4. Luas dacrah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya

3.        Retak diagonal (diagonal cracks)
Retak diagonal adalah retakan yang tidak bersambungan satu sama lain yang arahnya diagonal terhadap perkerasan.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Refleksi dari retak susut atau sambungan pada material pengikat yang berada di bawahnya [umumya beton semen portland, lapis pondasi rekat  (cemented base) dan lapis pondasi aspal (asphalt base)].
  2. Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau bangunan.
  3. Desakan akar pohon-pohonan.
  4. Pemasangan bangunan layanan umum.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
  3. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Panjang retak yang dominan.
  3. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya secara pendekatan, tingkat kerusakan perkerasan
4.        Retak Berkelok-kelok (Meandering Cracks)
Retak berkelok-kelok adalah retak yang tidak saling berhubungan, polanya tidak teratur, dan arahnya bervariasi biasanya sendiri-sendiri
Faktor penyebab kerusakan
  1. Penyusutan material di bawah material rekat atau material butiran halus tertentu.
  2. Pelunakan tanah di pinggir perkerasan akibat kenaikan kelembaban,atau  terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau struktur
  3. Pengaruh akar tumbuh-tumbuhan.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggi kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
  3. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Panjang retak yang dominan.
  3. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
5.        Retak reflektif sambungan (joint reflective cracks)
Kerusakan ini umumnya terjadi pada permukaan perkerasan aspal yang telah dihamparkan di atas perkerasan beton semen portland (Portland Cement Concrete, PCC). Retak terjadi pada lapis tambahan (overlay) aspal yang mencerminkan pola retak dalam perkerasan beton lama yang berada di bawahnya. Jadi, retakan ini terjadi pada lapis tambahan dalam perkerasan aspal, di mana retak pada lapisan lama belum sempurna diperbaiki Pola retak dapat ke arah memanjang, melintang, diagonal atau membentuk blok.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Gerakan vertikal atau horizontal pada lapisan dibawah lapis tambahan, yang timbul akibat ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur atau kadar air.
  2. Gerakan tanah pondasi.
  3. Hilangnya kadar air dalam tanah-dasar yang kadar lempungnya tinggi.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Panjang retak yang dominan.
  3. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya.

6.        Retak blok (block cracks)
Retak  blok  ini  berbentuk  blok-blok  besar  yang  saling bersambuitgan, dengan ukuran sisi blok 0,20 sampai 3 meter, dan dapat membentuk sudut atau pojok yang tajam. Kerusakan ini bukan karena beban lalu-lintas. Kesulitan sering terjadi untuk membedakan apakah retak blok disebabkan oleh perubahan volume di dalam campuran aspal atau di dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar. Retak blok biasanya terjadi pada area yang luas pada perkerasan aspal, tapi kadang-kadang hanya terjadi pada area yang jarang dilalui lalu-lintas. 
Faktor penyebab kerusakan
  1. Perubahan volume campuran aspal yang mempunyai kadar agregat halus tinggi dari aspal penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap (odsorptive aggregate).
  2. Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal.
  3. Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.
  4. Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapisan aus aspal.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Lebar sel yang dominan.
  3. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
  1. Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi. Retak yang besar diisi   dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau larutan pengisi.

  2. Pengkasaran dengan pemanas (heater scarify) dan lapis tambahan (overlay).
7.        Retak kulit buaya (alligator cracks)
Retak kulit buaya adalah serangkaian retak memanjang paralel yang membentuk banyak sisi menyerupai kulit buaya dengan lebar celah lebih besar atau sama dengan 3 mm. Retak ini disebabkan oleh kelelahan akibat beban lalu-lintas berulang-ulang. Retak dimulai dari bagian bawah permukaan aspal (atau pondasi yang distabilisasi), di mana tegangan dan regangan tank sangat besar di bawah beban roda. Retak merambat ke permukaan, awalnya berupa suatu rangkaian  retak-retak memanjang. Sesudah dibebani berulang-ulang, retak saling berhubungan satu sama lain.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan.
  2. Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah.
  3. Modulus dari material lapis pondasi rendah.
  4. Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas.
  5. Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
  6. Pelapukan permukaan, tanah-dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil.
  7. Bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air, karena air tanah naik.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan laiu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Lebar sel yang dominan.
  3. Luas daerah kerusakan.
Pilihan cara perbaikan
  1. Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
  2. Jika tingkat kerusakan ringan, pemeliharaan sementara seperti menutup dengan larutan penutup (slurry seal) atau penanganan permukaan yang lain. Penambalan dapat membantu sebelum perbaikan permanen dilakukan.  Penutupan retakan dengan pengisi tidak begitu efektif untuk perbaikan retak kulit buaya.

  3. Lapisan tambahan.
8.        Retak slip (slippage cracks) atau retak bentuk bulan sabit
Retak selip atau retak yang berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh gaya-gaya horizontal yang berasal dari kendaraan. Retak ini diakibatkan oleh kurangnya ikatan antara lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya,sehingga terjadi penggelineiran. Jarak retakan sering berdekatan dan berkelompok secara  paralel. Retakan ini sering terjadi pada tempat-tempat kendaraan mengerem, yaitu pada saat turun dan bukit.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Kurangnya ikatan lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh debu, minyak, karet, kotoran, air atau bahan lain yang tidak adhesif yang berada diantara lapis aus (wearing course) dan lapisan di bawahnya. Biasanya, buruknya ikatan terjadi akibat tidak digunakannya tack coat atau prime coat dengan lapisan tipis aspal pada agregat pondasi (base).
  2. Campuran terlalu banyak kandungan pasimya
  3. Pemadatan perkerasan kurang.
  4. Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan kendaraan.
  5. Lapis aus di permukaan terlalu tipis.
  6. Modulus lapis pondasi (base) terlalu rendah.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
  2. Retak meluas ke seluruh area perkerasan
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Lebar retak yang dominan.
  2. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan

  1. Membongkar lapisan aspal yang rusak, kemudian dilakukan penambalan permukaan.
9.        Retak halus (hair cracking)

Retak halus (hair cracking) lebar celah lebih kecil atau sama dengan 3 mm, penyebab adalah bahan perkerasan yang kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil. Retak halus ini dapat meresapkan air ke dalam lapis permukaan. Untuk pemeliharaan dapat dipergunakan lapis latasir, atau buras. Dalam tahap perbaikan sebaiknya dilengkapi dengan perbaikan sistem drainase. Retak rambut dapat berkembang menjadi retak kulit buaya.

10.    Retak susut (shrinkage cracks)

Retak susut (shrinkage cracks), retak yang saling bersambungan membentuk kotak-kotak besar dengan sudut tajam. Retak disebabkan oleh perubahan volume pada lapisan permukaan yang memakai aspal dengan penetrasi rendah, atau perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir dan melapisi dengan burtu.

3.      Kerusakan di Pinggir Perkerasan
Kerusakan di pinggir perkerasan adalah retak yang terjadi di sepanjang pertemuan antara permukaan perkerasan aspal dan bahu jalan, lebih-lebih bila bahu jalan tidak ditutup (unsealed). Kerusakan ini terjadi secara lokal atau bahkan bisa memanjang di sepanjang jalan, dan sering terjadi di salah satu bagian jalan, atau sudut.
Cara perbaikan
  1. Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya. Jika bahu jalan tidak mendukung pinggir perkerasan, maka material yang buruk dibongkar dan digantikan dengan material baik yang dipadatkan.
  2. Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan pecah, maka harus dibuatkan drainase.
  3. Penutupan retakan/penutupan permukaan.

  4. Penambalan parsial.
2.        Jalur/Bahu turun (Lane/Shoulder Drop-Off)
Jalur/bahu jalan turun adalah beda elevasi antara pinggir perkerasan dan bahu jalan. Bahu jalan turun relatif terhadap pinggir perkerasan.Hal ini tidak dipertimbangkan penting bila selisih tinggi bahu dan perkerasan kurang dari 10 sampai 15 mm.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Lebar perkerasan kurang.
  2. Bahu jalan dibangun dengan material yang kurang tahan terhadap erosi dan abrasi.
  3. Penambahan lapis permukaan tanpa diikuti penambahan permukaan bahu jalan.
Cara perbaikan
  1. Untuk beda tinggi yang rclatif kccil dan bahu jalan berupa aspal, maka campuran aspal panas (hot mix) dapat ditempatkanpada bagian yang elevasinya berbeda.
  2. Untuk beda tinggi yang besar, bahu jalan hams ditinggikan dengan menghamparkan lapis tambahan (overlay).
  3. Jika penyebabnya adalah drainase yang buruk, maka dibuatkan lagi drainase yang baik.

  4. Jika bahu jalan tidak diperkeras, maka dibongkar dan material jelek diganti dengan material yang bagus dan dipadatkan.

4.      Kerusakan Tekstur Permukaan
Kerusakan tekstur permukaan merupakan kehilangan material perkerasan secara berangsur-angsur dari lapisan pennukaan ke arah bawah. Perkerasan nampak seakan pecah menjadi bagian-bagian kecil, seperti pengelupasan akibat terbakar sinar matahari, atau mempunyai garis-garis goresan yang sejajar. Butiran lepas dapat terjadi di atas seluruh permukaan, dengan lokasi terburuk di jalur lalulintas. Beberapa kerusakan yang tidak diperbaiki, dapat mengakibatkan berkurangnya kualitas struktur perkerasan. Kerusakan tekstur permukaan aspal dapat dibedakan menjadi:
1.        Pelapukan dan Butiran Lepas (Weathering and Raveling)
Pelapukan dan butiran lepas (raveling) adalah disinegrasi permukaan perkerasan aspal melalui pelepasan partikel agregat yang berkelanjutan, berawal dari permukaan perkerasan mentijil ke bawah atau dari pinggir ke dalam. Butiran agregat berangsur-angsur lepas dari permukaan perkerasan, akibat lemahnya pengikat antara partikel agregat. 
Faktor penyebab kerusakan
  1. Campuran material aspal lapis permukaan kurang baik.
  2. Melemahnya bahan pengikat dan/atau batuan.
  3. Pemadatan kurang baik, karena dilakukan pada musim hujan.
  4. Agrcgat hydrophilic (agregat mudah menyerap air).
Cara perbaikan

  1. Perawatan permukaan dengan menggunakan chip .vcal atau slurry seal.
2.        Kegemukan (Bleeding/Flushing)
Kegemukan adalah hasil dari aspal pengikat yang berlebihan, yang bermigrasi ke atas permukaan perkerasan. Kelebihan kadar aspal atau terlalu  rendahnya kadar udara dalam campuran, dapat mengakibatkan kegemukan. Kegemukan juga menyebabkan tenggelamnya agregat (parsial maupun keseluruhan) ke dalam pengikat aspal yang menyebabkan berkurangnya kontak antara ban kendaraan dan batuan. Kerusakan ini menyebabkan permukaan jalan menjadi licin. Pada temperatur tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal.
  2. Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah.
  3. Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prune coat atau tack coat.
  4. Pada tambiilan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan tambalan.
  5. Aeregat terpenetrasi ke dalam lapis pondasi, sehingga lapis pondasi menjadi lemah.
Cara perbaikan
  1. Pemberian pasir panas atau batu caring panas untuk mengimbangi kelebihan aspal.

  2. Jika kegemukan ringan, perawatan dilakukan dengan agregat seal coat, dengan menggunakan agregat yang mudah menyerap.

3.        Agregat licin / Aus (polished aggregate)
Agregat licin adalah licinnya permukaan bagian alas perkerasan, akibat ausnya agregat di permukaan, Kecenderungan perkerasan menjadi licin dipengaruhi oleh sifat-sifat geologi dari agregat. Akibat pelicinan agregat oleh lalu lintas, aspal pengikat akan hilang dan permukaan jalan menjadi iicin, terutama sesudah hujan, sehingga membahayakan kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Agregat kasar di permukaan beton tidak tahan aus, berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk kubikal. Beberapa agregat, khususnya batu gamping. menjadi halus oleh pengaruh lalu-lintas.
  2. Beberapa macam kerikil yang secara alarmi permukaannya halus, jika digunakan untuk permukaan perkerasan tanpa memecahnya, maka akan menyebabkan gangguan kekesatan permukaan jalan. Agregat halus ini menjadi licin bila basah oleh air hujan.
Cara perbaikan
  1. Pelapisan ulang (overlay) tipis.
  2. Membersihkan bahan-bahan yang bisa membuat aus agregat dilapisan permukaan

  3. Penghamparan lapis tambahan (overlay).

4.        Stripping
Stripping adalah suatu kondisi hilangnya agregat kasar dari bahan penutup yang disemprotkan, yang menyebabkan bahan pengikat dalam kontak Iangsung dengan ban. Pada saat musim panas, aspal dapat tercabut dan melekat pada ban kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Kandungan pengikat terlalu sedikit.
  2. Pengikat tidak mengikat batuan dengan baik (kotor, Agregrat hydrophylic, batuan basah).
  3. Penyerapan pengikat.
  4. Kerusakan/ausnya batuan.
  5. Pencampuran pengikat kurang baik.
  6. Pemadatan kurang.    
Cara perbaikan

  1. Penghamparan lapis tambahan (overlay) tipis.

5.       Lubang (Potholes)
Lubang adalah lekukan permukaan perkerasan akibat hilangnya lapisan aus dart material lapis pondasi (base). Kerusakan berbentuk lubang kecil biasanya berdiameter kurang dari 0.9 m dan berbentuk mangkuk yang dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan kerusakan  permukaan  lainnya. Lubang bisa terjadi akibat galian utilitas atau tambalan di area perkerasan yang telah ada.  Lubang, umumnya mempunyai tepi yang tajam dan mendekati vertikal. Lubang ini terjadi ketika beban lalu-lintas menggerus bagian-bagian kecil dari permukaan perkerasan, sehingga air bisa masuk. 
Faktor penyebab kerusakan
  1. Campuran material lapis permukaan yang kurang baik.
  2. Air masuk ke dalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan perkerasan yang tidak segera ditutup.
  3. Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis pondasi.
  4. Tercabutnya aspal pada lapisan aus akibat melekat pada ban kendaraan.
Cara perbaikan
  1. Perbaikan permanen dilakukan dengan penambalan diseluruh kedalaman.

  2. Perbaikan sementara dilakukan dengan membersihkan lubang dan mengisinya dengan campuran aspal dingin yang khusus untuk tambalan
6.       Tambalan dan galian utilitas (patching and utility cut patching)
Tambalan (patch) adalah penutupan bagian perkerasan yang mengalami perbaikan. Kerusakan tambalan dapat diikuti/tidak diikuti oleh hilangnya kenyamanan kendaraan (kegagalan fungsional) atau rusaknya struktur perkerasan. Rusaknya tambalan menimbulkan distorsi, disintegrasi, retak atau terkelupas antara tambalan dan permukaan perkerasan asli. Kerusakan tambalan dapat terjadi karena permukaan yang menojol atau ambles terhadap permukaan permukaan perkerasan. Jika kerusakan terjadi pada tambalan maka kerusakan tersebut belum tentu disebabkan oleh lapisan yang utuh.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Amblesnya tambalan umumnya disebabkan oleh kurangnya pemadatan material urugan lapis pondasi (base) atau tambalan material aspal.
  2. Cara pemasangan material bawah buruk.
  3. Kegagalan dari perkerasan di bawah tambalan dan sekitarnya.
Cara perbaikan
  1. Perbaikan atau penggantian tambalan di seluruh kedalaman untuk perbaikan permanen.

  2. Dilakukan penambalan permukaan untuk perbaikan sementara.
7.      Persilangan jalan rel (railroad crossing)
Kerusakan pada persilangan jalan rel dapat berupa ambles atau benjolan di sekitar dan/atau antara lintasan rel.
Faktor penyebab kerusakan
  1. Amblesnya perkerasan, sehingga timbul beda elevasi antara permukaan perkerasan dengan permukaan rel.
  2. Pelaksaaan pekerjaan perkerasan atau pemasangan jalan rel yang buruk.
Resiko lanjutan
  1. Mengganggu kenyamanan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
  1. Luas dari persilangan diukur. Sembarang tonjolan besar yang diakibatkan oleh lintasan rel harus dianggap sebagai bagian dari persilangan.
Cara perbaikan
  1. Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.

  2. Rekonstruksi persilangan jalan rel.
8.      Erosi Jet Blast (Jet Blast Erosion)

Erosi jet blast adalah kerusakan perkerasan beton aspal pada bandara. Kerusakan ini menyebabkan area permukaan aspal menjadi gelap, ketika pengikat aspal telah terbakar atau terkarbonisasi. Area terbakar lokal mempunyai kedalaman yang bervariasi sampai sekitar ½ in (12.7 mm) (Shahin, 1994). Erosi jet blast diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
9.         Tumpahan Minyak (Oil Spillage)
Tumpahan minyak adalah kerusakan atau pelunakan permukaan perkerasan aspal di bandara yang disebabkan oleh tumpahan minyak, pelumas, atau cairan yang lain. Tipe kerusakan seperti ini, terutama tcrjadi pada perkerasan beton aspal di bandara. Kerusakan diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.

10.        Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi

Penurunan konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distrorsi perkerasan. Perkerasan lentur yang dibangun di atas kotoran atau tanah gambut, akan memunculkan area yang ambles. Kegagalan urugan juga menyebabkan retak yang berbentuk setengah lingkaran di permukaan perkerasan. Retak yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, ataupola memanjang pada perkerasan yang berada di atas timbunan harus diselidiki kemungkinan adanya ketidakstabilan lereng. Gerakan akibat mampatnya lapisan tanah lunak, tidak dipengaruhi oleh tebal lapis pondasi (base) atau perkerasan. Gerakan ini ditandai dengan gerakan turun perlahan. Kerusakan semacam ini dapat diperbaiki dengan meletakkan lapisan perata, sehingga kualitas kerataan perkerasan dapat dikembalikan ke kondisinya semula.

Kerusakan jalan bisa disebabkan oleh banyak faktor. Bisa faktor internal maupun faktor eksternal.
a.         Faktor internal diantaranya:
·                     Desain yang kurang tepat
·      Bahan dan Material di lokasi yang belum memenuhi standar. Dalam hal ini dapat disebabkan oleh sifat material itu sendiri atau dapat pula disebabkan oleh sistem pengolahan bahan yang tidak baik
·                     Waktu Pelaksanaan yang kurang/terburu-buru
·                     Pelaksanaan yang kurang menjaga mutu
b.        Faktor eksternal diantaranya:
  • Kondisi tanah dasar yang tidak stabil. Kemungkinan disebabkan oleh sistem pelaksanaan yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah dasarnya yang memang jelek.
  • Air yang berada di jalan, bisa di dalam tanah dan perkerasan maupun di atas perkerasan aspal seperti banjir dan genangan. Air, yang dapat berasal dari air hujan, sistem drainase jalan yang tidak baik, naiknya air akibat sifat kapilaritas
  • Lalu lintas, yang dapat berupa peningkatan beban dan repetisi beban. Kelebihan beban atau bahasa kerennya overload.
  • Iklim, Indonesia beriklim tropis dimana suhu udara dan curah hujan umumnya tinggi, yang dapat merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
  • Proses pemadatan lapisan di atas tanah dasar yang kurang baik

 


Komen


Komentar