TUGAS PERTEMUAN 6
NAMA : SYARIFA FIBRIANI
NIM : 2019D1B167
PENGAWASAN PROYEK
Pertemuan Ke - 6
Buat detail penjelasan yang lengkap terkait :
1. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan Beton Bertulang dan Jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi pada Pek. Beton Bertulang)
2. Jenis-jenis kerusakan pada pekerjaan Lapisan Campuran Beraspal dan Jelaskan juga upaya penanganan terkait kerusakannya tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yg terjadi pada Pek. Lapisan Camouran Beraspal)
1. Kerusakan dan Perkuatan Yang Sering Terjadi Pada Beton Bertulang
Kerusakan yang sering terjadi dalam beton bertulang
Pada umumnya, kerusakan yang terjadi dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:
- Retak (cracks)
Retak merupakan kejadian pecah pada beton, berupa garis-garis panjang yang sempit. Retak ini biasa terjadi akibat cuaca yang panas dan berangin.
Jenis kerusakan ini sifatnya dangkal dan saling berhubungan. Kerusakan akibat keadaan alam pada beton dengan steel structure (reinforced concrete) maupun prestressed concrete memang seringkali tidak bisa dihindari.
Dengan penanganan yang tepat, kerusakan ini tidak akan menimbulkan permasalahan berarti bagi konstruksi. - Lubang-lubang pada beton bertulang (void)
Voids merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi kerusakan pada beton bertulang, berupa lubang-lubang yang ukurannya relatif dalam dan lebar.
Penyebabnya ialah proses pemadatan yang dilakukan dengan vibrator beton yang kurang maksimal dan terlalu sempitnya jarak antara bekisting dengan tulangan atau frame. Yang sering terjadi adalah jarak antar tulang yang terlalu sempit hingga mortar tidak bisa mengisi rongga atau pori-pori antara agregat kasar dengan sempurna. - Kelupasan dangkal pada permukaan (scalling/ erosion/spalling)
Kelupasan dangkal pada permukaan beton bertulang merupakan jenis kerusakan yang umum terjadi.
Penyebabnya ialah adanya eksposisi yang berulang terhadap proses pembekuan dan pencairan hingga permukaan beton bisa terkelupas (scalling).
Ada pula jenis kerusakan lain yang menyebabkan permukaan beton terkelupas, yakni spalling, yakni melekatnya material di permukaan bekisting yang menyebabkan permukaan beton terkelupas. - Lekatan baja beton
Inilah jenis kerusakan lain yang umum terjadi pada beton bertulang. Kerusakan ini sering terjadi pada komponen struktur penunjang bangunan sipil.
Perlu diketahui bahwa lekatan dipengaruhi oleh tingkat kekasaran sebuah permukaan baja dan kualitas beton di sekitar bagian tulangan. Jika kelekatan gagal terjadi atau kurang sempurna, maka akan membuat menurunnya daya dukung pada struktur.
Hal ini bsia menyebabkan deformasi. Yang lebih parah bisa menyebabkan runtuhnya struktur konstruksi.
Penyebab lain dari kegagalan kelekatan ialah adanya korosi pada tulangan, terjadinya kebakaran, atau bisa jadi karena terlalu tipisnya selimut beton. - Adanya serangan kimia
Beberapa bahan kimia digunakan dalam proses konstruksi beton tulangan, baik steel structure maupun baja. Seperti penggunaan fly ash pada campuran beton yang berpotensi bisa memberi pengaruh pada beton terutama pada lingkungan bersulat.
Selain itu, adanya tegangan internal bisa juga terjadi akibat dari mengembangnya unsur kimia tertentu pada beton, seperti Ca (OH)2 dengan unsur kimia penyerang. - Penurunan pondasi
Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi. - Penggunaan vibrator yang salah menjadi salah satu penyebab utama kerusakan pada beton. anda bisa memaksimalkan penggunaan vibrator tapi hanya untuk proses pemadatadan sesuai dengan aturan yang berlaku.
- Tinggi jatuh pengecoran, untuk menghindari kerusakan ini anda bisa melakukan pembatasan tinggi jatuh pengecoran 2-4 feet dan jatuhkan campuran secara vertikal
- Kesalahan pelepasan bekisting, dalam hal ini anda harus mendapatkan persetujuan dari pihak kontraktor dengan melihat hasil uji kuat tekan.
- Dilatasi pengecoran, untuk hal ini seharusnya pengecoran dilakukan selapis demi selapis. jangan terlalu tebal (max. 500 mm) dan pastikan tebal nya tidak melebihi panjang batang penggetar.
Perkuatan pada beton bertulang
Untuk mengatasi kerusakan yang terjadi pada beton bertulang baik dengan structur besi maupun baja, maka harus dimulai dengan tahap pemilihan bahan perkuatan yang baik dan tepat.
Pemilihan material ini merupakan persyaratan wajib untuk perbaikan yang tahan lama. Salah satu solusi untuk perkuatan ini ialah dengan material yang bersifat cementitious yang jadi pilihan terbaik untuk perkuatan beton yang rusak.
Pada kondisi tertentu, juga disyaratkan bahwa perkuatan harus mencakup pula ketahanan terhadap serangan bahan kimia hingga terkadang material lain dipilih dengan pertimbangan tersebut. Jadi, material perbaikan bersifat fleksibel sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kerusakan yang terjadi.
Beberpa pertimbangan untuk memilih material perkuatan ialah: kemudahan perbaikan, pembiayaan, seberapa terampil pekerja dalam memperbaiki, serta peralatan yang dimiliki untuk perbaikan.
Syarat-syarat yang harus ada dalam material perbaikan
- Memiliki stabilitas dimensional
Salah satu syarat utama untuk memilih materi perkuatan pada beton ialah adanya lekatan yang sempurna dan maksimal antara material yang baru dan beton yang rusak.
Sering kali yang terjadi ialah adanya kerusakan pada kelekatan akibat perubahan dimensional yang diakibatkan oleh penyusutan. Sehingga material yang dipakai untuk perbaikan haruslah bebas susut ataupun jika mengalami penyusutan tidak akan merusak lekatan pada beton yang lama. - Koefisien ekspansi thermal
Perlu diketahui bahwa semua material dalam konstruksi akan mengalami ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur udara di lingkungan. Perubahan yang terjadi tergantung pada koefisien ekspansi thermal material tertentu. Misalnya, untuk beton, koefisien ekspansi thermal adalah 0,000006 hingga 0,000012 cm per derajat celcius.
Maka dari itu, pemilihan material untuk perkuatan beton bertulang harus dipilih dengan tepat. Jika komposisi dari dua material dengan koefisien thermal jauh berbeda dan mengalami perubahan temperatur maka akan mengakibatkan kerusakan pada beton bertulang berupa garis lekatan. - Modulus elastisitas
Istilah di atas untuk menggambarkan ukuran kekakuan pada sebuah material. Suatu bahan atau material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak akan mengalami deformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas rendah, terutama ketika menerima beban.
Penawaran salah satu beton bertulang yaitu RC Box Culvert dan juga kebutuhan Pagar Beton Precast
Dengan demikian, pemilihan material juga harus mempertimbangkan aspek ini, dimana jika dua material dengan modulus elastisitas berbeda berada dalam satu kontak maka bisa menyebabkan material dnengan modulus elastisitas rendah akan meleleh, melengkung atau menggelembung jika menerima beban. Selain itu, susut atau pergerakan thermal yang terjadi pun dapat menyebabkan beton kehilangan lekatan.
Jenis-jenis bahan perkuatan beton bertulang
Sesuai dengan syarat di atas, maka ada beberapa jenis material yang bisa diaplikasikan untuk perkuatan beton bertulang, yakni:
1. Material yang bersifat cementitious
Material yang satu ini dalam digunakan untuk perbaikan beton dengan bantuan admixture yang bisa menghasilkan sifat kohesif, capaian kekuatan cepat, dan daya tahan terhadap susut.
Material perbaikan dalam jenis ini adalah:
- Beton, grout, mortar yang diaplikasikan untuk mengganti total penampang.
- Mortar dan beton dengan modifikasi tertentu, yakni penambahan latex untuk melapisi kembali permukaan lantai bangunan atau jembatan saat ada kerusakan.
- Grout, mortar, dan beton yang telah melalui penambahan polimer.
- Dry pack, yakni mortar berbahan dasar semen portland yang tidak akan mengalami
- Shotcrete/ sprayed concrete/ sprayed mortar, dibuat dari bahan-bahan sama seperti pembentuk beton (semen, air, agregat).
2. Material berbahan dasar resin
Pembuatan material ini atas dasar epoxy resin, yakni resin untuk injeksi. Ada yang terdiri dari pasir halus, ada pula yang dicampur dengan agregat kasar berukuran kecil.
3. Elastomeric sealants
Material ini digunakan untuk memperbaiki retak yang mengalami pergerakan cukup signifikan. Ada dua tipe yang bisa digunakan, yakni hot-applied dan cold applied.
4. Silicones
Material ini digunakan untuk perkuatan apabila ada masalah uap air melalui dinding. Larutan silicone di semprotkan pada didining hingga silicon resin tertinggal dalam pori dinding dan mencegah kerusakan.
5. Bentonite
Material bubuk dari debu vulkanik ini dapat mengabsorbsi air dengan jumlah banyak sehingga efektif digunakan sebagai penghalang air.
6. Bituminous coating
Material berbahan dasar berupa aspal yang diaplikasikan untuk perlindungan terhadap pelapukan pada beton atau waterproofing.
7. Untuk kerusakan retak-retak, perbaikan bisa dilakukan dengan injeksi menggunakan epoxy/resin atau produk lain yang khusus untuk injeksi beton.
8. Kerusakan retak cukup lebar dan beton pecah namun tulangan masih baik, perbaikan beton dapat dilakukan dengan cara beton dibersihkan dan dikasarkan kemudian di grouting ulang.
9. Jika kerusakan sudah serius maka cara perbaikan yang bisa dilakukan adalah menambah ketebalan pelat. Penebalan pelat bisa dilakukan pada sisi bawah pelat. Yang perlu diperhatikan dalam penebalan plat adalah dipastikan kelekatan beton lama dan baru bekerja dengan baik.
10.Pada beton bagian dalam mengalami spalling atau
rusak, namun tulangan tidak rusak. Cara perbaikan beton dengan grouting.
Grouting adalah memberikan campuran adukan beton dengan bahan khusus dengan
mutu tinggi.
2. Jenis – jenis kerusakan perkerasan lentur (aspal), umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Upaya penanganan terkait kerusakannya
- Menambal di seluruh kedalaman.
- Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan lapisan tipis perawat permukaan, maka permukaan dikasarkan, kemudian dicampur dengan material pondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
- Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi melebihi 50 mm, keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), diikuti dengan lapis tambahan (overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur perkerasan lebih kuat.
- Seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan (overlay) campuran aspal panas (hot mix) dengan perataan dan pelapisan permukaan. Perbaikan alur dengan menambal permukaan, umumnya hanya untuk perbaikan sementara.
Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, ternasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
- Beban lalu-lintas berlebihan.
- Penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami penurunan.
- Perawatan permukaan (surface treatment) atau micro surfacing.
Untuk area kerusakan yang besar, perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya (permukaan), atau menambal pada seluruh kedalaman.
- Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di seluruh kedalaman.
- Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan perawat permukaan tipis, kasarkan permukaan, campur dengan material agregat pondasi, dan padatkan sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan lapis pondasi 50 mm, sungkur dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), yang diiikuti dengan lapis tambahan campuran aspal panas (hot mix) agar memberikan kekuatan yang cukup pada perkerasan.
- Menambal di seluruh kedalaman
- Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya dengan material baru.
- Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
- Sembarang cara, untuk perbaikan pennanen, pada prinsipnya harus ditujukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.
- Cold mill.
- Penambalan dangkal, parsial atau di seluruh kedalaman.
Pelapisan tambahan (overlay).
- Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, sehingga lapisan tersebut kurang stabil.
- Adanya perubahan volume tanah di dalam tanah-dasar oleh gerakan vertikal.
- Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan. Lebar celah bisa mencapai 6 mm, sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dari permukaan.
- Adanya penyusutan semen pengikat pada lapis pondasi (base) atau tanah-dasar.
- Kelelahan (fatigue) pada lintasan roda.
- Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Retak dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Panjang retak yang dominan.
- Jarak retakan.
- Luas daerah kerusakan.
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
- Penyusutan bahan pengikat pada lapis pondasi dan tanah-dasar.
- Sambungan pelaksanaan atau retak susut (akibat temperature rendah atau pengerasan) aspal dalam permukaan.
- Kegagalan struktur lapis pondasi.
- Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Panjang retak yang dominan.
- Jarak retakan.
- Luas dacrah kerusakan.
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
- Refleksi dari retak susut atau sambungan pada material pengikat yang berada di bawahnya [umumya beton semen portland, lapis pondasi rekat (cemented base) dan lapis pondasi aspal (asphalt base)].
- Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau bangunan.
- Desakan akar pohon-pohonan.
- Pemasangan bangunan layanan umum.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Panjang retak yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya secara pendekatan, tingkat kerusakan perkerasan
- Penyusutan material di bawah material rekat atau material butiran halus tertentu.
- Pelunakan tanah di pinggir perkerasan akibat kenaikan kelembaban,atau terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau struktur
- Pengaruh akar tumbuh-tumbuhan.
- Mengganggi kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Panjang retak yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
- Gerakan vertikal atau horizontal pada lapisan dibawah lapis tambahan, yang timbul akibat ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur atau kadar air.
- Gerakan tanah pondasi.
- Hilangnya kadar air dalam tanah-dasar yang kadar lempungnya tinggi.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Panjang retak yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya.
- Perubahan volume campuran aspal yang mempunyai kadar agregat halus tinggi dari aspal penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap (odsorptive aggregate).
- Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal.
- Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.
- Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapisan aus aspal.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Lebar sel yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
- Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi. Retak yang besar diisi dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau larutan pengisi.
Pengkasaran dengan pemanas (heater scarify) dan lapis tambahan (overlay).
- Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan.
- Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah.
- Modulus dari material lapis pondasi rendah.
- Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas.
- Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
- Pelapukan permukaan, tanah-dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil.
- Bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air, karena air tanah naik.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan laiu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
- Lebar retak yang dominan.
- Lebar sel yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
- Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
- Jika tingkat kerusakan ringan, pemeliharaan sementara seperti menutup dengan larutan penutup (slurry seal) atau penanganan permukaan yang lain. Penambalan dapat membantu sebelum perbaikan permanen dilakukan. Penutupan retakan dengan pengisi tidak begitu efektif untuk perbaikan retak kulit buaya.
Lapisan tambahan.
- Kurangnya ikatan lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh debu, minyak, karet, kotoran, air atau bahan lain yang tidak adhesif yang berada diantara lapis aus (wearing course) dan lapisan di bawahnya. Biasanya, buruknya ikatan terjadi akibat tidak digunakannya tack coat atau prime coat dengan lapisan tipis aspal pada agregat pondasi (base).
- Campuran terlalu banyak kandungan pasimya
- Pemadatan perkerasan kurang.
- Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan kendaraan.
- Lapis aus di permukaan terlalu tipis.
- Modulus lapis pondasi (base) terlalu rendah.
- Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
- Retak meluas ke seluruh area perkerasan
- Lebar retak yang dominan.
- Luas daerah kerusakan.
Membongkar lapisan aspal yang rusak, kemudian dilakukan penambalan permukaan.
Retak halus (hair cracking) lebar celah lebih kecil atau sama dengan 3 mm, penyebab adalah bahan perkerasan yang kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil. Retak halus ini dapat meresapkan air ke dalam lapis permukaan. Untuk pemeliharaan dapat dipergunakan lapis latasir, atau buras. Dalam tahap perbaikan sebaiknya dilengkapi dengan perbaikan sistem drainase. Retak rambut dapat berkembang menjadi retak kulit buaya.
Retak susut (shrinkage cracks), retak yang saling bersambungan membentuk kotak-kotak besar dengan sudut tajam. Retak disebabkan oleh perubahan volume pada lapisan permukaan yang memakai aspal dengan penetrasi rendah, atau perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir dan melapisi dengan burtu.
- Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya. Jika bahu jalan tidak mendukung pinggir perkerasan, maka material yang buruk dibongkar dan digantikan dengan material baik yang dipadatkan.
- Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan pecah, maka harus dibuatkan drainase.
- Penutupan retakan/penutupan permukaan.
Penambalan parsial.
- Lebar perkerasan kurang.
- Bahu jalan dibangun dengan material yang kurang tahan terhadap erosi dan abrasi.
- Penambahan lapis permukaan tanpa diikuti penambahan permukaan bahu jalan.
- Untuk beda tinggi yang rclatif kccil dan bahu jalan berupa aspal, maka campuran aspal panas (hot mix) dapat ditempatkanpada bagian yang elevasinya berbeda.
- Untuk beda tinggi yang besar, bahu jalan hams ditinggikan dengan menghamparkan lapis tambahan (overlay).
- Jika penyebabnya adalah drainase yang buruk, maka dibuatkan lagi drainase yang baik.
Jika bahu jalan tidak diperkeras, maka dibongkar dan material jelek diganti dengan material yang bagus dan dipadatkan.
- Campuran material aspal lapis permukaan kurang baik.
- Melemahnya bahan pengikat dan/atau batuan.
- Pemadatan kurang baik, karena dilakukan pada musim hujan.
- Agrcgat hydrophilic (agregat mudah menyerap air).
Perawatan permukaan dengan menggunakan chip .vcal atau slurry seal.
- Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal.
- Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah.
- Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prune coat atau tack coat.
- Pada tambiilan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan tambalan.
- Aeregat terpenetrasi ke dalam lapis pondasi, sehingga lapis pondasi menjadi lemah.
- Pemberian pasir panas atau batu caring panas untuk mengimbangi kelebihan aspal.
Jika kegemukan ringan, perawatan dilakukan dengan agregat seal coat, dengan menggunakan agregat yang mudah menyerap.
- Agregat kasar di permukaan beton tidak tahan aus, berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk kubikal. Beberapa agregat, khususnya batu gamping. menjadi halus oleh pengaruh lalu-lintas.
- Beberapa macam kerikil yang secara alarmi permukaannya halus, jika digunakan untuk permukaan perkerasan tanpa memecahnya, maka akan menyebabkan gangguan kekesatan permukaan jalan. Agregat halus ini menjadi licin bila basah oleh air hujan.
- Pelapisan ulang (overlay) tipis.
- Membersihkan bahan-bahan yang bisa membuat aus agregat dilapisan permukaan
Penghamparan lapis tambahan (overlay).
- Kandungan pengikat terlalu sedikit.
- Pengikat tidak mengikat batuan dengan baik (kotor, Agregrat hydrophylic, batuan basah).
- Penyerapan pengikat.
- Kerusakan/ausnya batuan.
- Pencampuran pengikat kurang baik.
- Pemadatan kurang.
Penghamparan lapis tambahan (overlay) tipis.
- Campuran material lapis permukaan yang kurang baik.
- Air masuk ke dalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan perkerasan yang tidak segera ditutup.
- Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis pondasi.
- Tercabutnya aspal pada lapisan aus akibat melekat pada ban kendaraan.
- Perbaikan permanen dilakukan dengan penambalan diseluruh kedalaman.
Perbaikan sementara dilakukan dengan membersihkan lubang dan mengisinya dengan campuran aspal dingin yang khusus untuk tambalan
- Amblesnya tambalan umumnya disebabkan oleh kurangnya pemadatan material urugan lapis pondasi (base) atau tambalan material aspal.
- Cara pemasangan material bawah buruk.
- Kegagalan dari perkerasan di bawah tambalan dan sekitarnya.
- Perbaikan atau penggantian tambalan di seluruh kedalaman untuk perbaikan permanen.
Dilakukan penambalan permukaan untuk perbaikan sementara.
- Amblesnya perkerasan, sehingga timbul beda elevasi antara permukaan perkerasan dengan permukaan rel.
- Pelaksaaan pekerjaan perkerasan atau pemasangan jalan rel yang buruk.
- Mengganggu kenyamanan kendaraan.
- Luas dari persilangan diukur. Sembarang tonjolan besar yang diakibatkan oleh lintasan rel harus dianggap sebagai bagian dari persilangan.
- Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
Rekonstruksi persilangan jalan rel.
Erosi jet blast adalah kerusakan perkerasan beton aspal pada bandara. Kerusakan ini menyebabkan area permukaan aspal menjadi gelap, ketika pengikat aspal telah terbakar atau terkarbonisasi. Area terbakar lokal mempunyai kedalaman yang bervariasi sampai sekitar ½ in (12.7 mm) (Shahin, 1994). Erosi jet blast diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
Penurunan konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distrorsi perkerasan. Perkerasan lentur yang dibangun di atas kotoran atau tanah gambut, akan memunculkan area yang ambles. Kegagalan urugan juga menyebabkan retak yang berbentuk setengah lingkaran di permukaan perkerasan. Retak yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, ataupola memanjang pada perkerasan yang berada di atas timbunan harus diselidiki kemungkinan adanya ketidakstabilan lereng. Gerakan akibat mampatnya lapisan tanah lunak, tidak dipengaruhi oleh tebal lapis pondasi (base) atau perkerasan. Gerakan ini ditandai dengan gerakan turun perlahan. Kerusakan semacam ini dapat diperbaiki dengan meletakkan lapisan perata, sehingga kualitas kerataan perkerasan dapat dikembalikan ke kondisinya semula.
- Kondisi tanah dasar yang tidak stabil. Kemungkinan disebabkan oleh sistem pelaksanaan yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah dasarnya yang memang jelek.
- Air yang berada di jalan, bisa di dalam tanah dan perkerasan maupun di atas perkerasan aspal seperti banjir dan genangan. Air, yang dapat berasal dari air hujan, sistem drainase jalan yang tidak baik, naiknya air akibat sifat kapilaritas
- Lalu lintas, yang dapat berupa peningkatan beban dan repetisi beban. Kelebihan beban atau bahasa kerennya overload.
- Iklim, Indonesia beriklim tropis dimana suhu udara dan curah hujan umumnya tinggi, yang dapat merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
- Proses pemadatan lapisan di atas tanah dasar yang kurang baik

Komen