Tugas Pertemuan 2
[Pertemuan ke - 2]
Nama : SYARIFA FIBRIANI
Nim : 2019D1B167
PENGAWASAN & PENGENDALIAN PROYEK
-Buat detail penjelasan yang lengkap terkait :
1. Management Pengendalian Mutu
2. Tepat Biaya
3. Tepat Mutu
4. Tepat Waktu
JAWABAN
1. Management Pengendalian Mutu
PengertianManajemenMutu
Manajemen mutu yang
dikenal total management quality atau TQM dapat diartikan sebagai
sebuah sistem yang membantu sebuah organisasi, perusahaan, atau badan usaha untuk
mengawasi setiap kegiatan serta tugas dan tanggungjawab yang diperlukan dalam mempertahankan
kualitas atau mutu dari perusahaan tersebut.
Total
management quality sendiri merupakan
sebuah sistem yang menentukan kebijakan, merencanakan, mengontrol, dan
mengembangkan kualitas mutu yang diberikan perusahaan. Sistemini
juga dikenal sebagai sebuah filosofi dasar yang menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
akan menentukan keberhasilan jangka panjang dari sebuah badan usaha. Di
dalamnya, semua stakeholders atau pemangku
kepentingan bekerjasama dalam peningkatan kualitas produk dan layanan serta budaya
kerja di lingkungan perusahaan.
Selain itu, ada definisi
lain yang menjelaskan bahwa system manajemen dalam menjaga mutu adalah sebuah system
manajemen yang lebih mengedepankan kualitas sebagai strategi bisnis yang
berorientasi pada kepuasan pelanggan yang melibatkan seluruh SDM di perusahaan.
ManfaatManajemenMutu
Ada banyakmanfaat yang bisa di dapatkan dari proses
jika diterapkan di dalam sebuah perusahaan. Antara lain :
- Memberikan kepuasan kepada
para pelanggan sehingga menjaga kepercayaan terhadap perusahaan.
- Menumbuhkan rasa
motivasi di dalam diri karyawan
- Meningkatkan standard kerja
di dalam perusahaan
- Meningkatkan dan
menjaga nama baik perusahaan
TujuanManajemenMutu
Manajemen mutu sendiri memiliki beberapa tujuan
yang diharapkan dapat tercapai di dalam prosesnya. Yaitu :
- MenetapkanVisi dan
Standar kerja bagi para anggota suatu organisasi atau badan usaha
- Membangun motivasi dan
budaya kerja di dalam organisasi maupun badan usaha
- Membantu meningkatkan kepercayaan terhadap produk yang dihasilkan perusahaan baik dari anggota maupun pelanggan atau klien.
- Memberikan inovasi atau pengembangan lebih lanjut dari perusahaan atau organisasi itu sendiri
FungsiManajemenMutu
Seperti yang sudah dijelas kan sebelumnya,
manajemen mutu memiliki fungsi sebagai sebuah acuan atau tolak ukur dalam mengelola
kualitas yang diberikan oleh suatu perusahaan, organisasi maupun badan usaha.
Hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas dan kinerja seluruh anggota perusahaan
dalam menjalankan tugasnya masing-masing guna mencapai tujuan dan visi dari perusahaan
tersebut.
Proses ManajemenMutu
Di dalam manajemen mutu,
ada beberapa tahapan maupun proses yang perlu dilakukan yaitu :
Perencanaan dan Strategi
Mutu
Untuk mencapai suatu tujuan,
diperlukan proses perencanaan dan strategi yang matang agar keputusan-keputusan
yang diambil dapat lebih terarah dan sesuai. Hal ini juga berlaku di dalam
dunia bisnis. Untuk melaksanakan, harus diawali dengan perencanaan yang
baik. rencana dan strategi yang dibuat pun juga harus memiliki struktur tahapan
atau proses yang tepat. Hal ini dilakukan agar kualitas mutu yang
diinginkan dapat tercapai dan memenuhi standar yang berlaku.
Selain itu, di dalam tahap perencanaan strategi ini juga perlu dilakukan analisis untuk mengetahui kebutuhan dari konsumen atau pelanggan agar membantu meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap produk maupun jasa yang dihasilkan.
ImplementasiPerencanaanMutu
Setelah melakukan perencanaan strategi yang matang, implementasi mutu diperlukan untuk mengaplikasikan hasil rancangan yang sudah dibuat. Di dalam proses implementasi mutu, adalah yang perlu diperhatikan, seperti standard pengerjaan atau pembuatan produk, dan pengecekan kualitas mutu. Jika sudah sesuai dengan standard mutu yang digunakan oleh perusahaan, barulah produk maupun hasil akan diberikan dan disebarluaskan kepada para konsumen di luar.
EvaluasiMutu
Setelah mengimplementasikan
produk dan menyebarluaskan produk kepada para konsumen, maka tahap berikutnya
yang perlu dilakukan adalah proses evaluasimutu. Proses evaluasi mutu berguna untuk
meninjau kembali hasil dari produk yang dikeluarkan. Di dalam proses
evaluasiini, perusahaan perlu untuk memeriksa kembali tingkat kepuasan serta respon
yang didapatkan dari produk yang sudah dihasilkan. Nantinya, hasil
review atau evaluasi ini akan berguna dalam perbaikan atau pengembangan produk lebih
lanjut.
PerbaikanatauPengembangan
Setelah mengevaluasi hasil
dan kualitas dari produk yang sudah dikeluarkan sebelumnya, sebuah perusahaan perlu
melakukan langkah terakhir dan yang paling krusia, yaitu pengembangan atau perbaikan. Proses
ini merupakan proses lanjutan yang memanfaatkan hasil pemantauan dan
pengendalian mutu hingga sebuah perusahaan dapat berinovasi lebih lanjut terhadap
produk atau jasa yang sudah dikeluarkan sebelumnya.
Pada dasarnya, hasildari proses maupun tahapan awal harus ditinjau kembali untuk menyempurnakan dan mengembangkan kualitas mutu dari perusahaan. Ini merupakan salah satu tujuan awal yang diinginkan dalam mengimplementasikan manajemen untuk menjaga mutu. Di dalam tahapan perbaikan atau pengembangan ini, ada 3 aspek yang harus ditargetkan, yaitu kinerja atau implementasi mutu terhadap produk, manajemen atau pengelolaan mutu, dan manajemen atau pengelolaan badan usaha atau perusahaan itu sendiri secara keseluruhan.
(2,3,4)
Setiap proyek memiliki tujuan khusus, didalam proses pencapaian tujuan tersebut ada tiga constraint yang harus dipenuhi, yang dikenal dengan Trade-off Triangle atau Triple Constraint. Triple constraint adalah usaha pencapaian tujuan yang berdasarkan tiga batasan, yaitu :
a. Tepat biaya.
Proyek harus dikerjakan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran, baik biaya tiap item pekerjaan, biaya tiap periode pelaksanaan maupun biaya total sampai akhir proyek.
b. Tepat waktu.
Proyek harus dikerjakan dengan waktu sesuai dengan jadwal pelaksanaan proyek (schedule) yang telah direncanakan yang ditunjukan dalam bentuk prestasi pekerjaan (work progress).
c. Tepat mutu.
Mutu produk atau disebut sebagai kinerja (performance), harus memenuhi spesifikasi dan kriteria dalam taraf yang disyaratkan oleh pemilik
2. Tepat Biaya
Dalam bisnis kecil, perusahaan pasti selalu tidak pernah lepas dari biaya. Jika perusahaan sedang memproduksi atau menjual barang, maka akan membutuhkan biaya. Diperlukan pengendalian biaya produksi untuk menganalisis keputusan produksi dan berbagai jenis biaya agar sesuai anggaran serta menghasilkan laba maksimal. Ketika biaya produksi tak terkendali, akan menyebabkan anjloknya laba bersih perusahaan kamu.
Mengetahui jumlah
biaya produksi yang timbul dari tiap alur produksi perusahaan merupakan hal
penting dalam aktivitas bisnis. Dengan mengetahui biaya produksi tersebut,
manajer dapat mengambil keputusan untuk menentukan harga jual produk, mengatur
jadwal pengiriman barang dan berbagai aktivitas produksi lainnya serta
meminimalisir berbagai risiko terkait proses produksi. Jumlah biaya produksi
ini berfungsi sebagai dasar perhitungan rumus harga pokok penjualan (cost of
goods sold).
Biaya produksi menjadi
salah satu faktor penting mempengaruhi tinggi rendahnya harga jual produk. Maka
dari itu, manajer perusahaan harus melaksanakan pengendalian biaya produksi
yang efektif dengan adanya perencanaan biaya produksi yang baik. Sehingga
kegiatan operasional bisnis dapat berjalan dengan efisien. Biaya produksi dapat
menentukan harga pokok produksi yang akan dipakai untuk menghitung harga pokok
barang jadi pada saat akhir periode akuntansi.
Artikel kali ini
membahas tentang definisi dan objek biaya produksi serta beberapa konsep dasar
dalam pengendalian biaya produksi.
Definisi Biaya Produksi
Biaya produksi (manufacturing
costs / cost of production) merupakan semua biaya yang timbul dari suatu
fungsi dan proses produksi perusahaan manufaktur meliputi biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang jumlahnya
lebih besar dibandingkan dengan jenis biaya lain. Biaya produksi adalah salah
satu komponen dalam laporan keuangan, khususnya laporan laba rugi dalam
pencatatan akuntansi biaya.
Objek Biaya Produksi
Untuk menentukan
profitabilitas, efisiensi dan area potensial usaha dalam peningkatan biaya,
biaya produksi dapat diklasifikasi menjadi 2 objek yang dibiayai, diantaranya:
- Biaya langsung (direct costs) adalah biaya yang
penggunaannya dapat diidentifikasi dan ditelusuri dengan mudah dari objek
atau pusat biaya tertentu. Biaya langsung juga merupakan biaya yang harus
dikeluarkan secara langsung berhubungan dengan produksi barang objek. Jika
biaya tersebut tidak dikeluarkan, maka pekerjaan tidak akan berjalan atau
tidak selesai sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemilik usaha.
Contohnya adalah biaya bahan baku, biaya konstruksi serta biaya tenaga
kerja langsung, seperti upah pekerja, manajer dan jasa konsultan.
- Biaya tidak langsung (indirect costs) adalah biaya yang manfaatnya
tidak dapat ditelusuri dan diidentifikasi dengan mudah dari objek biaya
tertentu terkait proses produksi. Jika biaya tersebut tidak dikeluarkan,
maka proyek bisa tetap berjalan dan selesai sesuai dengan kehendak dan
persyaratan pemilik usaha. Contohnya adalah biaya overhead (biaya
listrik, telepon dan air) dan administrasi pabrik, biaya departemen
proyek, biaya upah mandor dan kepala bagian produksi, biaya keamanan,
biaya penyusutan mesin dan biaya sewa kantor.
3 Konsep Pengendalian Biaya Produksi
Pengendalian biaya produksi dilakukan dengan cara membandingkan anggaran biaya produksi yang telah dihitung di muka dengan biaya produksi yang sesungguhnya atau biaya realisasi. Jika biaya realisasinya lebih tinggi daripada biaya anggaran sebelumnya, maka dianggap tidak menguntungkan (unfavorable). Sebaliknya, jika biaya realisasinya lebih rendah dari anggaran dianggap menguntungkan (favorable). Dalam pengendalian biaya produksi, berikut adalah 3 konsep dasar yang perlu diperhatikan, diantaranya:
Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku atau material langsung (direct material)
merupakan bahan yang secara langsung dipakai untuk memproduksi produk barang
jadi yang siap dipasarkan sesuai dengan nominal yang timbul mudah ditelusuri.
Bahan baku langsung mencakup berbagai macam bahan yang secara fisik yang akan
diolah menjadi produk selesai atau produk jadi. Contohnya adalah harga beli
dari produk kopi, seperti biji kopi, air, gula, dan bahan lainnya.
Pengendalian biaya
produksi untuk bahan baku merupakan penyediaan dan pemakaian bahan baku secara
efisien dengan kuantitas dan kualitas yang telah ditetapkan dan dapat
dipertanggungjawabkan secara penuh. Ada 4 kegiatan pengendalian bahan baku yang
dilakukan oleh controller adalah sebagai berikut:
- pembuatan SOP pemakaian,
pembelian dan penerimaan bahan baku berdasarkan kuantitas dan program
produksi.
- penetapan dan pemeliharaan
pengecekan inheren untuk memastikan bahwa bahan baku yang dipesan telah
dibayar, diterima, dan digunakan sesuai dengan tujuan.
- penetapan harga atas pembelian
melalui perbandingan biaya dan kuantitas bahan baku yang aktual digunakan
dengan biaya stkamur.
- penyiapan bahan sisa,
pemborosan, dan penyimpangan sebagai hasil dari perbandingan biaya
stkamur.
Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja
langsung (direct labor)
merupakan biaya yang secara langsung ditempatkan dan diberdayakan dalam
menangani kegiatan produksi barang jadi dan segala peralatan produksi. Biaya
ini juga adalah sebuah jasa yang diberikan kepada karyawan pabrik yang dan
jejak manfaatnya dapat diidentifikasikan dan diikuti pada produk tertentu. Contohnya
adalah upah, tunjangan dan asuransi yang dibayarkan kepada pegawai di bagian
perakitan produk atau yang menjalankan kegiatan produksi. Berikut adalah 3
kegiatan pengendalian biaya produksi terkait tenaga kerja langsung bagi controller,
diantaranya:
- Menetapkan prosedur untuk
pendistribusian biaya tenaga kerja dan rencana produksi.
- Menyediakan pra rencana yang
akan dipergunakan untuk menetapkan tim kerja dengan perhitungan stkamur
kerja dan biaya kontrak komparatif.
- Laporan data tambahan mengenai
tenaga kerja, seperti jam kerja rata-rata per minggu, per jam, per hari,
prestasi kerja dan biaya lembur.
Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik (factory overhead) adalah
biaya yang terjadi secara tidak langsung dibebankan pada aktivitas produksi
barang di pabrik. Contohnya adalah biaya bahan baku tidak langsung, tenaga
kerja tidak langsung dan biaya overhead lain. Kegiatan
pengendalian biaya produksi dalam pos pengeluaran overhead pabrik
yang menjadi tanggung jawab controller dalam pengambilan
keputusan produksi adalah mengendalikan dan menetapkan biaya produk jadi,
melakukan persediaan barang jadi, membuat akun laporan keuangan, seperti
penjualan, biaya administrasi, inventaris dan lainnya.
Biaya overhead pabrik
dibagi menjadi 3 jenis biaya:
- Bahan baku tidak langsung (indirect
material) adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi, tetapi
tidak langsung terlihat pada barang jadi yang dihasilkan dan cenderung sulit
untuk dilacak. Contohnya adalah bahan penolong, seperti lem, minyak,
cairan pembersih.
- Tenaga kerja tidak langsung (indirect
labor) adalah tenaga kerja yang tidak terlibat secara langsung dalam
proses produksi. Contohnya adalah upah dan tunjangan petugas keamanan dan
supervisor quality control di pabrik.
- Overhead lain, seperti biaya listrik dan air pabrik,
asuransi pabrik, sewa gedung dan tanah, depresiasi, amortisasi, reparasi
dan pemeliharaan aktiva tetap
Penyediaan inventaris atau
persediaan di suatu perusahaan yang terbatas pada kebutuhan penggunaannya atau
yang disediakan tepat pada saat produksi untuk mengurangi penanaman dana yang
besar atas penggunaan tersebut (just-in-time/JIT).
Otoritas Jasa Keuangan
Apa itu Tepat Waktu atau JIT?
Sistem persediaan just-in-time (JIT) adalah strategi
manajemen yang menyelaraskan pesanan bahan baku dari pemasok secara langsung
dengan jadwal produksi. Perusahaan menggunakan strategi inventaris ini untuk
meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan dengan menerima barang hanya
saat mereka membutuhkannya untuk proses produksi, yang mengurangi biaya
persediaan. Metode ini mengharuskan produsen untuk memperkirakan permintaan
secara akurat.
Salah satu contoh sistem persediaan
JIT adalah produsen mobil yang beroperasi dengan tingkat persediaan rendah
tetapi sangat bergantung pada rantai pasokannya untuk mengirimkan suku cadang
yang dibutuhkan untuk membuat mobil, sesuai kebutuhan. Akibatnya, pabrikan
memesan suku cadang yang diperlukan untuk merakit mobil, hanya setelah pesanan
diterima. Agar manufaktur JIT berhasil, perusahaan harus memiliki produksi yang
stabil, pengerjaan berkualitas tinggi, mesin pabrik bebas glitch, dan pemasok
yang dapat diandalkan.
Keunggulan dan Kelemahan Sistem JIT
Sistem persediaan JIT memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan model tradisional. Proses produksinya singkat, artinya produsen
dapat dengan cepat berpindah dari satu produk ke produk lainnya. Selain itu,
metode ini mengurangi biaya dengan meminimalkan kebutuhan gudang. Perusahaan
juga menghabiskan lebih sedikit uang untuk bahan baku karena mereka membeli
sumber daya yang cukup untuk membuat produk yang dipesan dan tidak lebih.
Kerugian dari sistem persediaan JIT melibatkan potensi gangguan dalam rantai pasokan. Jika pemasok bahan baku mengalami gangguan dan tidak dapat mengirimkan barang tepat waktu, ini dapat menghentikan seluruh proses produksi. Pesanan tiba-tiba yang tak terduga untuk barang-barang dapat menunda pengiriman produk jadi ke pelanggan akhir.
Komentar
Posting Komentar